Sajak Orang Bodoh
orang bilang diam itu emas
maka aku pun hanya terdiam
lantas datanglah orang-orang
berduyun-duyun mereka mengelilingiku
mengoceh tentang hal-hal yang aku tidak mengerti
yang mungkin tidak juga kau mengerti
mengoceh tentang sesuatu
yang kata mereka penting
kata mereka menyangkut hajat hidup orang banyak
dan kata mereka menyangkut masa depan anak cucu
aku mencoba menyimak
hei, apa ini
kok tidak ada satu pun yang aku mengerti?
oke, aku spakat
aku memang agak bodoh
(ya, bolehlah aku memperhalus kenyataan sedikit
bahwa aku lebih parah dari itu: idiot, terbelakang)
tapi tunggu2..
yang dikemukakan orang-orang ini..
katanya hal yang penting
hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak
dan anak cucu..
kalo memang begitu tentu saya ada di dalamnya dong?
tapi kok saya tidak tahu apa-apa ya..
orang-orang ini sebenarnya pake bahasa apa sih?
fisik sama, kebangsaan sama, tapi kok saya sama sekali tidak tahu kata-kata mereka..
kalo kata orang kota, bahasa mereka tuh
ketinggian coy!
oke ketinggian..
jadi mereka yang terlalu pintar
atau saya yang terlalu bodoh
atau orang-orang ini yang sok pintar
tak tahulah
hanya Tuhan yang tahu (walaupun saya tidak berhak bawa-bawa nama Tuhan)..
dan daripada saya psing-pusing ikut mikirin hal yang saya tak tahu ini
lebih baik saya ngopi-ngopi sore saja
bersama kawan-kawan dekat
karena apa yang penting bagi saya saat ini adalah persahabatan dengan kawan saya
toh jika dipaksa menyimak omongan orang-orang pintar ini
(ya anggaplah mereka memang lebih pintar dari saya)
saya tidak akan tahu apa-apa..dan toh jika saya dipaksa bicara
toh saya akan mengacaukan jalan pembicaraan
karena mereka lebh pintar
jadi saya menyingkir
mengopi di sore hari
bersama sahabat karib
adakah yang lebih penting dari ini?
orang bilang diam itu emas
maka aku pun hanya terdiam
lalu datanglah salah seorang dari orang pintar
tapi berisik ini
menghampiriku yang sedang minum kopi panas
“kau orang yang apatis
apa kau tidak peduli dengan bangsa kita?
mau jadi apa bangsa kalo pemimpinnya macam kau ini?”
dan datang orang yang lain
“berkontribusilah hai pemuda
walaupun sedikit
karena kaulah pemimpin di masa datang”
dan makin banyak orang-orang berisik lain yang datang, dan semuanya ganti berbicara di depanku
dan topiknya berganti tentangku
oh tidak!!
saya hanya orang bodoh
saya tidak tahu apa yang kalian ucapkan
bahkan saya tidak tahu arti apatis atau kontribusi
tolong gunakan istilah yang mudah sedikit dong
saya kan tidak mengenyam pendidikan setinggi kalian
tapi ada beberapa hal yang saya tahu
bahwa:
1. apa yang kalian omongkan itu terlalu ketinggian
dan orang awam seperti saya dan kawan-kawan saya ini tidak mengerti
kalau memang itu penting
bisakah diperhalus sedikit?
kalau kalian tidak mampu, buat apa kalian belajar?
untuk diri kalian sendiri? jadi kalian lah yang munafik
sampaikanlah ilmu itu dalam bahasa yang mudah dicerna
karena untuk itulah kalian belajar
jika kalian justru mempersulit orang lain belajar apa yang kalian pelajari
menggunakan bahsa yang menurut kalian mudah
(sedangkan tidak menurut awam seperti saya)
maka kalian selama ini tidak belajar apa-apa.
karena jika kalian belajar
mudahlah kalian menyampaikan itu dengan mudah
(ups tunggu jangan marah, ini kan pandangan orang bodoh
saya mah tidak tahu apa-apa dibanding kalian)
2. dan apa yang kalian bilang dengan penting dan anak cucu
aduh, saya mah pusing dengan itu semua
menambah pikiran saja
untuk memikirkan makan apa besok saja otak saya sudah tidak kuat?
tidak bisakah kalian memikirkan sesuatu yang konkrit?
atau lebih tepatnya melakukan hal yang konkrit?
ajarkan pada saya
apa yang harus saya kerjakan untuk bisa makan di hari esok
harga sekarang ini mahal
dan, ya upah untuk orang bodoh begitu rendah
tak bisakah kalian secara konkret membantu saya?
daripada banyak omong yang tidak berujung
dan hnya menghasilkan sesuatu yang abstrak atau mengawang-awang?
kalo memang apa yang kalian bahas itu penting
harusnya saya merasa itu penting dong
tapi kok saya pikir itu tidak terlalu penting ya
setidaknya dibandingkan duit makan saya
toh, yang kalian lakukan selama ini
dan ke depannya
hanyalah sebatas mengecap, dan mengucapkan apa yang mengambang
jadi daripada energi kalian habis buat itu
tak bisakah kalian membantu saya secara riil?
(ya maaf deh, saya memang orang bodoh
ga pantas mengajari kalian, apalagi kalian yang pintar ini kan
memang amat sibuk menuntut ilmu, beda dengan saya yang bodoh)
3. dan satu-satunya ilmu yang saya tahu
adalah ilmu padi
makin berisi makin merunduk
makin berilmu makin kalemlah dia..
jadi, apa kalian orang pintar, belum belajar ini?
ya, cukp sekian terima kasih
maaf2 lho, kan sudah saya bilang
saya ini orang bodoh
jadi biar saya ini asal ngecap
tapi jangan dimasukin hati ya, orang saya dari sononya bodoh
jadi biarkan saya menikmati kopi sore hari
bersama kawan karib dan sambil sesekali (mencoba) bersastra
karena apalah yang orang bodoh ini bisa lakukan
selain nongkrong dan minum kopi?
dan janganlah anda mengkritik saya di belakang
masak orang yang lebih pintar, justru beraninya main di belakang
orang yang lebih bodoh (ups, ini logika orang bodoh lho, jangan tersinggung ya)
kan harusnya orang yang lebih pintar lebih berani dong
dan anda kan lebih tahu tentang ini daripada saya (inget lho, saya cuman orang bodoh, jadi maap ya)
mari kita semua selesaikan ini dengan damai
silakan anda berdiskusi lagi
dengan sesama anda
dan dengan bahasa yang susah kami fahami
menghasilkan yang juga kami tidak faham esensinya
tapi kalau menurut kalian itu perlu ya silakan
toh tidak kami larang
dan jangan sembarangan bilang kami apatis lo
kan sudah kami bilang di awal
bahwa ini karena kami bodoh, jadi ya daripada kami mengganggu kalian
lebih baik kami diam kan?
dan biarkan kami sore ini mengopi dengan santai
bersama sahabat karib kami
toh kami tidak menganggu anda kan, orang-orang pintar?
( dan pada akhirnya, terngiang lagi nasihat emak-abah: bahwa diam itu emas.. )
(dibuat di depok, 1.31. am)
Sekarang Tari Pendet, Kemarin Reog, gimana kalo besok Musik Melayu dipatenkan juga Malaysia?
Sepekan terakhir, nampaknya isu tentang ‘perampokan budaya’ Indonesia oleh negeri tetangga kembali menghangat.. Ya apalagi jika bukan klaim tari pendet oleh Malaysia
untuk kesekian kalinya negara tetangga ini mengklaim produk budaya Indonesia, setelah Reog Ponorogo, Rasa Sayange, Batik, dll.. Argumennya pun selalu sama, ‘karena serumpun, tidak menutup kemungkinan budayanya sama.’
oke, mungkin argumen itu valid..sayangnya untuk kali ini banyak yang beranggapan bahwa itu salah, mengingat tari pendet bukan budaya Melayu, murni budaya Bali..
oke, saya bukan ahli budaya, dan akan ribet jika membahas hal ini terlalu dalam..dan bukan sesuatu yang tepat jika membahas ini di sini..
hanya saja, saya sedikit tertarik dengan berita dengan respon pemerintah.. Di mana pemerintah menyayangkan tindakan masyarakat yang kurang mengapresiasi budaya sendiri hanya menggonggong jika ada klaim asing.. langkah pemerintah sendiri juga nampaknya sesuai dengan ‘prosedur’ yang diharapkan, menenangkan dalam negeri, klarifikasi ke Malaysia, dan lain-lain langkahnya..
pertanyaannya, adalah bukankah hal-hal seperti ini juga terus terjadi di masa lalu? kenyatannya sekarang terulang lagi.. jadi, kalo boleh dibilang, ‘kemana ama ngapain aja pemerintah dari dulu?‘
oke, jika pemerintah berargumen masyarakat kurang apresiasi, apa pemerintahnya uda cukup memfasilitasi?
ya, kita tidak perlu berdebat lagi lah soal pemerintah ata masyarakat kah yang salah, atau mempermasalahkan tetangga kita yang rese’..pemerintah maupun masyarakt udah seharusnya memberi perhatian lebih terhadap masalah budaya..semua elemen kudu bekerja sama dengan baik, ini adalah kunci utamanya..
just go ahead, step forward, and do it better..
toh, setiap hal ada positifnya, termasuk hal ini, yakni Bali bisa saja makin populer
jadi, masih sekedar marah-marah doang?ayolah, yang penting adalah tindakan konkret untuk berubah..
(NB: saya jadi berpikir, gimana kalo Malaysia mempatenkan juga Musik Melayu?unuk hal yang satu ini, yang akan terjungkal ga hanya pemerintah atau seniman saja.. industri musik kita juga akan kacau..apalagi jika melihat potensi industri musik ini, di mana katanya RBT Kangen Band, ST12, Wali, dsb, bisa capai angka miliaran..wohoho..bakal jadi apa ya kalo Malaysia ikut mempatenkan irama musik Melayu?dan bakal gimana masyarakt kita? wallahu a’lam)
Pendidikan yang Menipu ato Pemerintah yang Jago Marketing?
Pada awal musim kampanye, entah disengaja atau tidak, banyak skali iklan-iklan tentang “Sekolah Gratis”.. Bahkan menariknya, iklan tersebut memanfaatkan momentum “Laskar Pelangi”, dengan mengundang salah satu tokoh dalam film bertema pendidikan tersebut, untuk ikut memotivasi pemirsa agar ikut berpartisipasi dalam “sekolah gratis” tersebut..
Tentu, Seiring berjalannya waktu, iklan tersebut lenyap..namun, sekolah gratis masih terus berjalan..namun apa yang terjadi? nyatanya, yang ada hanyalah sebuah fakta-fakta yang ironis, fakta-fakta yang katanya menipu, bahkan ada pernyataan bahwasekolah gratis itu istilah kampungan lebih lanjut, ada ketidak jelasan informasi seputar sekolah gratis ini, sehingga masyarakat tak tahu seperti apa Sekolah Gratis yang dimaksudkan oleh pemerintah
Apakah memang “sekolah gratis” seperti ini yang direncanakan oleh pemerintah??jika begitu, mengapa tidak disosialisasikan oleh pemerintah dari awal?? dan lagi, mengapa gembar-gembor gratis ini keluar di masa kampanye?
Jika mengacu pada prinsip dasar pendidikan, bahwa memang suatu pendidikan harus ditingkatkan dulu kualitasnya, bukan fokus pada pemerataan, maka tidak adalah itu namanya sekolah gratis.. bahkan pemerintah sendiri juga sudah “mengiyakan” asumsi ini lewat kebijakannya yang bernama BHP..
Lalu apa sebenarnya maksud pemerintah membuat dua kebijakan yang kontradiktif dalam satu lembaga yang sama (depdiknas)? dan mengapa pula BHP ini dulu gak dikampanyekan sebagai “suatu program peningkatan kualitas pendidikan perguruan tinggi”?(toh pada akhirnya, kedua program ini sama-sama menipu:manis di mulut, pahit di praktek)
Ya, apapun itu, ternyata pemerintah kita sangat pandai dalam strategi marketing: memilih isu mana yang menarik diiklankan, dan memilih jargon apa yang tepat..Terima Kasih, Pemerintah..
-
Archives
- March 2010 (1)
- February 2010 (4)
- January 2010 (2)
- December 2009 (1)
- August 2009 (4)
- July 2009 (3)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS