The Other Side Of Me

The Best Way to Learn alamism

Analisa Dampak Koefisien b dari Rank Size Rule terhadap Pembangunan Ekonomi Perkotaan di Indonesia

(sekedar iseng2, upload tugas perkotaan ke blog ah..sekali2 tulisan tentang ekonomi, hhe)

Pendahuluan: Apa itu Rank Size Rule?

Jika kita berbicara mengenai kota, maka kita akan berhadapan dengan dua dimensi pengertian dari kota itu sendiri: yakni dimensi administratif dan dimensi ekonomi. Pengertian kota dari dimensi administratif artinya pendefinisian batas-batas wilayah dari kota tersebut secara administrasi ditentukan oleh pemerintah. Sementara pengertian kota dari dimensi ekonomi memberikan konsekuensi bahwa batas-batas dari kota itu sendiri dilihat dari aktivitas ekonomi yang ada, tidak lagi dari batas administrasi pemerintah. Contohnya: secara administratif, antara Depok, Jakarta, dan Bekasi merupakan kota-kota yang terpisah. Namun, jika kita memandang dari dimensi ekonomi, maka antara Jakarta, Depok, dan Bekasi merupakan satu kesatuan.

Penggunaan dimensi ekonomi dimana aktivitas ekonomi digunakan sebagai batas wilayah dari suatu kota, memberikan konsekuensi tersendiri yang patut dipertanyakan: bagaimana struktur distribusi aktivitas ekonomi antar-kota ini? Sebuah pertanyaan yang wajar, mengingat sejatinya secara administratif, kota-kota ini merupakan wilayah yang berbeda, terutama dari segi luas wilayahnya.

Permasalahan mengenai ukuran distribusi aktivitas ekonomi perkotaan telah menjadi observasi dari peneliti-peneliti sebelumnya. Hingga permasalahan ini bisa sedikit terjawab oleh rumusan dari Zipf (1949) yang menyimpulkan bahwa ukuran distribusi aktivitas ekonomi dari suatu kota akan mengikuti distribusi Pareto, sekaligus juga memiliki bentuk parameter tertentu (jamak dikenal sebagai Hukum Zipf). Dan Hukum Zipf inilah yang menjadi dasar dari Rank Size Rule, sebuah aturan yang jamak digunakan jika ingin melihat proporsi distribusi aktivitas ekonomi perkotaan dewasa ini.

Dan apa yang menjadi inti gagasan dari Rank Size Rule ini adalah, secara rata-rata, jumlah penduduk atau tingkat populasi yang ada di suatu kota, jika dikalikan dengan peringkat kota tersebut dalam hierarki aktivitas ekonomi perkotaan di suatu negara, adalah sama dengan jumlah populasi yang ada di kota terbesar.

Artinya, jika kita menggunakan Rank Size Rule ini, ketika kita mengalikan jumlah penduduk yang ada di Sukabumi dengan peringkatnya dalam hierarki aktivitas ekonomi perkotaan di Indonesia akan sama dengan jumlah penduduk di kota Jakarta (yang merupakan kota terbesar di Indonesia).

Jika dituliskan dalam rumus matematis, maka secara garis besar inti gagasan Rank Size Rule adalah:

Rank = Peringkat kota berdasarkan jumlah penduduk (terbanyak = 1, dst)

C = Konstanta

N = Jumlah penduduk

Mengacu pada teori yang dikemukakan sebelumnya, bahwa Rank Size Rule ini merupakan aturan yang digunakan untuk menganalisa proporsi distribusi dari aktivitas ekonomi perkotaan, maka komponen penting dari persamaan di atas adalah koefisien b. Apa sebenarnya arti dari koefisien b ini dan apa implikasinya terhadap analisa ekonomi perkotaan di Indonesia, inilah yang menjadi pertanyaan.

Uji Statistik Rank Size Rule terhadap Kota-Kota di Indonesia

Dengan menggunakan rumus matematis dasar hukum Zipf [1] sebagai dasar pengujian statistik yang menggunakan OLS, dan sampel data berupa jumlah populasi di 69 kota di Indonesia yang diperoleh dari sensus penduduk di tahun 2000, maka diperoleh hasil pengujian sebagaimana berikut:

Dependent Variable: PENDUDUK
Method: Least Squares
Date: 03/06/03   Time: 03:04
Sample: 1 69
Included observations: 69
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 7.102894 0.072957 97.35660 0.0000
RANKING -1.181318 0.049408 -23.90938 0.0000
R-squared 0.895093 Mean dependent var 5.421085
Adjusted R-squared 0.893527 S.D. dependent var 0.492933
S.E. of regression 0.160845 Akaike info criterion -0.788193
Sum squared resid 1.733366 Schwarz criterion -0.723437
Log likelihood 29.19267 F-statistic 571.6583
Durbin-Watson stat 0.146874 Prob(F-statistic) 0.000000

Jika mengacu pada teori Rank Size Rule dan rumusan matematis Hukum Zipf yang dikemukan di awal, maka sesungguhnya nilai dari koefisien b adalah sama dengan nilai koefisien dari variable ranking. Artinya, mengacu pada uji statistik yang digunakan, maka nilai dari koefisien b dari 69 kota yang ada di Indonesia adalah sebesar -1,1813.

Interpretasi: Apa arti dari Koefisien b dan apa dampaknya terhadap Perekonomian?

Sedikit untuk mengingat kembali, bahwa apa yang menjadi inti gagasan dari Rank Size Rule dan Hukum Zipf adalah sama-sama menyoal proporsi distribusi dari aktivitas ekonomi kota-kota yang ada di suatu Negara. Adapun teori utama yang coba dijelaskan dalam Rank Size Rule adalah bahwa jumlah penduduk atau tingkat populasi dari suatu kota, jika dikalikan dengan peringkat kota tersebut dalam hierarki aktivitas ekonomi perkotaan di suatu negara, adalah sama dengan jumlah populasi yang ada di kota terbesar (Rank = C/Nb).

Dari penjelasan teori dan rumus matematis singkat di atas, maka didapat suatu kesimpulan bahwa sebenarnya koefisien b ini menggambarkan seberapa jauh jurang perbedaan antara aktivitas ekonomi kota-kota di Indonesia dengan Jakarta sebagai kota terbesar. Jika mengesampingkan jumlah populasi dan peringkat suatu kota, maka aktivitas ekonomi yang ada di Jakarta 1,1813 kali lebih besar daripada aktivitas ekonomi yang ada di kota lain. Tentunya, jurang perbedaan aktivitas ekonomi antar kota ini akan semakin besar ketika jumlah populasi juga dihitung.

Dan, jika melihat pada data yang ada, jumlah penduduk di Jakarta adalah sebanyak                            8.347.083 jiwa, sementara jumlah penduduk yang ada di Surabaya selaku kota terbesar kedua  hanya sebanyak 2.595.359. Perbedaan penduduk yang hampir empat kali lipat ini sudah bisa menggambarkan perbedaan aktivitas ekonomi yang cukup signifikan di Indonesia, apalagi jika dikalikan dengan besaran koefisien b yang sebesar 1,1813 ini.

Dari uji statistik di atas, dan interpretasi terhadap hasil koefisien b yang didapat, maka kita bisa mendapatkan bahwa distribusi pembangunan ekonomi kota-kota di Indonesia masih belum merata. Sentralisasi pembangunan masih terasa. Angka koefisien b yang sebesar 1,1813 mungkin terlihat kecil dan cukup baik, namun yang perlu diperhatikan lagi bahwa angka itu baru didapat dari hasil sampel 69 kota yang tergolong kota besar. Masih banyak kota-kota kecil lagi yang belum dihitung. Artinya angka koefisien b ini bisa semakin lebih besar. Dan artinya distribusi pembangunan ekonomi kota-kota di Indonesia belum proporsional.

Inilah yang menjadi tugas berat pemerintah ke depan, utamanya semenjak era Otonomi Daerah diberlakukan. Mampukah Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat untuk saling bekerja sama menggenjot perekonomian daerah, khususnya dalam mengejar pemerataan aktivitas ekonomi perkotaan. Agar cita-cita otonomi daerah dan desentralisasi dapat benar-benar terealisasi, tidak sebatas wacana seperti yang sudah-sudah.


[1] Jika mengacu pada rumus matematis dari Hukum Zipf yang menjadi dasar dari Rank Size Rule ini, maka rumusannya adalah: log S(i) ≈ α01 log i dimana S(i) menggambarkan jumlah populasi dan i mengindikasikan peringkatnya dalam hierarki ekonomi. Di sini,  α0> 0 dan α1 < 0, dan akan menjadi sebuah Rank Size Rule jika α1 =-1.

March 3, 2010 Posted by | economy | , , , , | Leave a comment

Sajak Cinta Murahan

Sayangku,

Andai aku bisa berkata-kata seperti para penyair bersajak

Aku ingin bisa mengatakan padamu bahwa aku sungguh mencintaimu

Tapi ternyata memang benar, di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan lewat kata

Termasuk rasa cintaku padamu, yang ternyata tak pernah tersampaikan secara nyata padamu

Sayangku,

Andai aku bisa memutar waktu

Aku ingin kembali ke masa lampau, mengulang lagi memori indah antara kita berdua

Tapi ternyata memang benar, sesuatu yang telah lalu tak bisa berlalu lagi

Termasuk kisah cinta kita, yang ternyata hanyalah kisah cinta murahan, yang palsu seperti di tivi

Sayangku,

Andai aku bisa mengubah jalanku,

Aku ingin bersamamu, selalu bersamamu, dan hanya bersamamu

Tapi ternyata memang benar, pasangan sehidup semati hanyalah omong kosong pujangga belaka

Termasuk kau dan aku, yang ternyata tak pernah bisa dan tak akan pernah satu

Sayangku,

Andai aku bisa berkata-kata seperti para penyair, bisa memutar waktu, dan bisa mengubah jalanku,

Aku ingin bisa menunjukkan padamu dan meyakinkan dirimu, bahwa aku sungguh cinta kamu

Tapi ternyata memang benar, di dunia ini tidak ada cinta sejati

Dan ternyata kamu memang benar, aku ternyata tidak pernah cinta kamu,

Dan ternyata memang benar, kisah cinta kita adalah sebuah kisah cinta murahan

Yang penuh dengan isak tangis palsu dan rayu gombal kemunafikan

February 26, 2010 Posted by | Igauan, literature | , , | 1 Comment

Cerita tentang Kantin Mahasiswa

Ini adalah sebuah kantin mahasiswa
Surga bagi mereka yang merasa disiksa dalam neraka bernama ruang kelas
Sekaligus neraka bagi mereka yang menemukan kedamaian di ruang kelasnya

Ini adalah sebuah kantin Mahasiswa
Saat dimana mahasiswa bisa membebaskan diri
Tanpa bermunafik lagi di depan dosen, menjadi apapun yang ia mau

Lihatlah pada suatu ujung
Ada yang bermain kartu,
Begitu asiknya dengan asap yang mengepul
Tak peduli dengan mahasiswi yang makan di balik punggung
Tak risau dengan waktu kuliah yang sudah menunggu dari sejam yang lalu
Hanya kartu dan mungkin sedikit uang taruhan yang terpikirkan
Hanya riuh gelak tawa yang terucapkan
Dan mungkin sesekali akan terdengar makian dari mereka yang kalah
(Buat apa kita kuliah, kalau bisa main kartu?
Yang penting main kartu dan cari duit dulu, kuliah bisa menunggu
Yang penting kan absen ga jebol, dan ujian bisa ikut)

Lihatlah pada ujung yang lain
Mahasiswa-mahasiswa aktivis
Duduk melingkar bak intelek-intelek elit
Lihatlah di meja:
Kopi, Rokok, dan buku-buku tentang pergerakan serta perpolitikan bangsa
Tidak ada makanan, tidak ada canda
(Kami tidak sempat untuk tertawa jika memikirkan saudara kami yang bersedih
Kami tidak tega untuk makan jika memikirkan saudara kami yang kelaparan
Kami tidak sampai hati untuk kuliah sementara saudara kami ada yang tidak bisa sekolah
Kami hanya peduli dengan saudara kami, dengan bangsa ini
Dan hanya kamilah golongan mahasiswa yang sanggup merubah itu semua)

Lihatlah pada ujung yang lain
Kelompok mahasiswa seniman
Secara ragawi, mereka sedang duduk bersama di dalam kantin mahasiswa
Tapi secara ruhani, entah mereka ada di mana sekarang
Ada yang melayang mengikuti alur cerita dari buku sastra yang ia baca
Ada yang melayang mengikuti melodi gitar yang ia tirukan dari seorang legenda musik
Dan ada yang melayang bersama…. Ah tak jelas melayang bersama apa, hanya melayang saja,
Katanya sedang cari inspirasi
(Ini adalah seni
Manusia boleh pintar, tapi belum tentu mereka bisa memahami keindahan seni
Dan kamilah orang-orang yang dipilih Tuhan
Untuk menjadi golongan istimewa, golongan yang paham keindahan seni)

Lihatlah pada ujung lainnya
Golongan mahasiswa terpelajar
Golongan mahasiswa baik-baik, teladan bagi yang lain
Tidak ada asap mengepul dari tempat mereka
Di atas meja, piring makan berebut tempat dengan buku-buku kuliah tebal
Golongan mahasiswa terpelajar makan secara tertib
Teratur, tidak berisik
Kalaupun perlu bicara, hanya seperlunya saja,
Itupun seringkali berhubungan dengan kuliah, kuliah, dan kuliah
(Kami adalah mahasiswa
Tugas kami adalah belajar, belajar, dan belajar
Kami sudah banyak merepotkan orang tua kami
Sudah saatnya kami membalas mereka
Yaitu dengan rajin belajar, belajar, dan hanya belajar
Agar kami bisa sukses di kemudian hari)

Ada juga kau temui di ujung,
Kelompok mahasiswa yang putus asa
Merokok-merokok-merokok, melamun-melamun-melamun,
Hanya itu yang dilakukan
Tak tahu apa sebab mereka begitu
Hanya saja golongan ini dinamakan golongan putus asa
Golongan yang sudah putus asa akan kuliahnya yang tak kunjung membaik, tapi sayang untuk dilepas
Golongan yang sudah putus asa akan cinta yang tak kunjung berbalas, tapi jijik untuk berganti orientasi seksual
Golongan yang dikecewakan oleh sahabatnya sendiri, tapi tak tega meninggalkan sahabatnya itu
Golongan mahasiswa putus asa, golongan orang-orang terpuruk,
Yang isinya selalu orang yang tersisih keadaan
Yang selalu berbeda manusianya dari bulan ke bulan, tergantung musimnya

Dan masih banyak lagi, mahasiswa-mahasiswa yang sering nongol di kantin,
Ada mahasiswa yang kelelahan setelah berolahraga,
Mampir hanya untuk melepas lelah, setelah itu cabut lagi ke arena pertandingan
Ada mahasiswa yang datang sekedar untuk kumpul-kumpul dulu,
Membicarakan mau jalan-jalan kemana, setelah itu berangkat ke pusat perbelanjaan
Dan ada pula mahasiswa yang sekedar datang ke kantin
Hanya untuk mencari kenalannya yang sedang makan atau merokok,
Setelah itu dia ngeloyor pergi begitu dapat apa yang dia ingini

Perhatikanlah kantin mahasiswa ini
Begitu menarik, begitu memikat hati
Bukan pada makanan yang menjadi daya tarik
Tapi pada orang-orang yang ada di kantin inilah daya tarik itu berasal

Berbagai topic pembicaraan dibahas di sini
Mulai dari asmara, lika-liku politik kampus, kompleksitas sebuah kalkulus,
Hingga kata-kata makian dan olokan dapat didengarkan di kantin mahasiswa

Di kantin inilah, para pemuda harapan bangsa, berkumpul di sela-sela kuliahnya
Ada yang jadi dosen di masa depan, padahal kerjaannya sekarang hanya main kartu
Ada yang jadi pemimpin bangsa di masa depan, padahal sekarang hanyalah golongan putus asa
Atau mungkin justru menjadi pengkhianat bangsa di masa depan,
Walaupun sekarang getol bicara pergerakan dan bicara tentang belajar,belajar, dan belajar

Semuanya begitu menarik jika kita membicarakan tentang kantin mahasiswa
Tentang orang-orangnya dan tentang apa yang mereka bicarakan, semuanya memikat hati
Dan karenanyalah aku bersyukur bisa mengenal tempat ini begitu dalam,
Walaupun hanya sebatas penjaja nasi uduk

February 26, 2010 Posted by | Igauan, literature | , , , | Leave a comment

Sajak kata hati

Sebuah kata hati
Sebuah kebenaran yang selalu tertutupi
Dengan berbagai kata-kata manis
Akankah kita selalu mengkhianati
Kata-kata hati yang terbersit di nurani?

Andai ada suatu kebenaran yang pasti
Maka itulah kata hati
Anda ada suatu kebenaran yang murni
Maka itulah kata hati
Apa yang kita inginkan dengan pasti
Apa yang kita inginkan dengan yakin
Sesuatu yang paling murni dan yang paling hakiki
Dari suatu yang paling kita maui maupun paling kita setujui
Itulah kata hati

Berapa banyak manusia yang mengingkari kata hati
Dengan berbagai kata-kata manis yang membius
Dengan berbagai alasan yang diada-adakan dan dilebih-lebihkan
Dengan Memutarbalikkan fakta dan logika
Demi mengingkari kata hati
Demi memperoleh kebenaran yang semu
Kebenaran yang melenakan manusia barang sesaat yang pada akhirnya
Hanya menyajikan kemunafikan dan kehancuran saja

Manusia boleh berdalih
Bahwa hanya mereka yang mengerti
Tentang pribadi masing-masing
Namun itu hanyalah dalih
Karena tetaplah yang paling mengerti
Adalah kata hati

Jadi untuk apakah manusia mengkhianati kata hatinya?
Untuk apakah manusia mengelabui akal sehatnya yang paling sehat?
Untuk apakah manusia mengingkari kebenaran yang paling hakiki?
Untuk apakah manusia menghindari apa yang paling ingin ia dekati?
Untuk apakah manusia menolak apa yang paling ia kehendaki?
Untuk apakah manusia mempertanyakan sesuatu yang tidak perlu lagi dipertanyakan?
Dan untuk apakah manusia manusia melakukan itu semua,
Melakukan pengkhianatan atas kata hati apa mereka?

Biarkan kata hati bicara
Biarkan apa yang benar itu benar dan yang salah itu salah
Tidak ada kebenaran yang berangkat dari kemunafikan
Tidak ada kebenaran yang perlu dipercantik maupun ditutupi
Dan tidak ada suatu kebenaran yang mengingkari kata hati

Jika menurut kata hatimu benar, maka itu benar
Jika menurut kata hatimu kau ingin hal itu, maka kau memang ingin hal itu
Tidak perlu lagi kata-kata lain selain kata hati

Dan bebaskan aku, kata hatimu
Untuk lebih berbicara,
Dan dengarkan aku, kata hatimu,
Dan aku akan membawamu ke kebenaran, membawamu ke apa yang benar-benar kau maui

February 26, 2010 Posted by | Igauan, literature | , , | Leave a comment

Cerita Tentang Warung Kopi Asik

Ini adalah sebuah warung kopi
usaha turun temurun tujuh generasi
dan konon
ini adalah tempat ngopi yang paling asik
selama tujuh generasi

(dan entah sejak kapan
nama warung Kopi ini jadi “Warung Kopi Asik”)

Ini adalah sebuah warung kopi
warung kopi tradisionil
dengan hidangan tertulis hanya tiga:
indomi, gorengan tahu-tempe, dan aneka kopi
tidak ada es teh manis, es jeruk, roti bakar, atau apalah itu
aneka kopi pun bukanlah kopi-kopi aneh macam capuccino, latte, atau apalah itu
bahkan merek-merek kopi bubuk yang kau kenal pun tidak ada
hanya ada indomi goreng dan rebus tanpa telor
gorengan tahu dan tempe
serta kopi item, kopi susu, dan kopi jahe
tanpa yang lain

jika kau mau pesan yang lain:
kau hanya dapat air putih
jika mau protes:
silakan pergi
itulah aturan warung kopi asik

ini hanyalah sebuah warung kopi tradisionil
jika kau cari AC, internet, sofa empuk dan televisi di sini
kau hanya menemui ventilasi, bangku kayu, dan transistor
yang konon kabarnya merupakan warisan dari generasi pertama
kalaupun ada yang terhitung baru, hanyalah sebuah gitar akustik saja
yang katanya pemberian dari seorang pelanggan

jika kau pikir warung kopi ini dibilang asik karena tempatnya
maka kau salah
kau hanya menemui sebuah warung kopi dengan ukuran seperti pas foto: 3×4
juga bukan warung kopi pinggir jalan
tapi warung kopi depan kuburan :
kuburan dari pemilik warung kopi generasi sebelumnya

jika kau pikir warung kopi ini dibilang asik karena pemiliknya
maka alih-alih mendapatkan perempuan bahenol
kau hanya menemui aki-aki tua berpeci dan bersarung
serta mulut yang selalu mengunyah sirih
yang untungnya, baik peci, sarung dan sirih
bukanlah warisan generasi pertama

mungkin kau akan bertanya:
lantas apanya yang asik?
apakah aku hanya berbohong?
tidak kawan, aku tidak berbohong,
alasan mengapa warung kopi ini dikatakan warung kopi asik
dan mengapa warung kopi ini begitu ramai
justru ada pada pemiliknya

don’t judge the book just by its cover, kata orang
dan jangan nilai warung kopi ini hanya dari tampilannya
karena jika begitu
kau tidak akan pernah menyadari betapa ‘ajaibnya’ warung ini
atau lebih tepatnya pemilik warung ini

tanpa pernah orang tahu bagaimana ceritanya,
ketika ada sekelompok mahasiswa berdialog tentang filsafat kiri
ketika mahasiswa baru sampai mendiskusikan marx-engels,
tiba-tiba si aki nyeletuk, “paham tersebut ada baiknya jika ditinjau dari sudut pandang nietzsche maupun gramsci, karena menurut nietzsche dan gramsci, blablabla”
yang akhirnya sesi ngopi mahasiswa tersebut berakhir dengan sesi kuliah filsafat kiri
(dan mahasiswa ini sekarang merupakan langganan tetap warung kopi asik ini
dan sering berdiskusi tentang banyak hal
mulai dari filsafat, politik dan ekonomi
yang entah bagaimana si kakek bisa tahu Socrates, Montesquieu, hingga Tan Malaka dan Ahmad Wahib)

tanpa pernah orang tahu bagaimana ceritanya,
ketika sekelompok peneliti muda berdialog tentang dasar-dasar teori fisika modern
ketika peneliti ini mengkaji tentang azas relativitas einstein,
tiba-tiba si aki, sambil menghidangkan kopi nyeletuk, “apa sudah dikaitkan dengan azas ketiadk-pastian heisenberg? lalu bagaimana dengan teori dari planck dan feynman? sudahkah kalian bahas?blablabla”
yang akhirnya sesi ngopi peneliti tersebut berakhir menjadi dialog seru tentang fisika modern
(dan peneliti ini sekarang merupakan langganan tetap warung kopi asik ini
sambil ngopi mereka biasanya ngobrol tentang topik jurnal dan penelitian yang terbaru
yang entah bagaimana si aki tahu dengan pasti beserta rumus matematiknya)

tanpa pernah orang tahu bagaimana ceritanya pula,
pernah datang sekelompok pemusik, datang membawa gitar akustik
yang tampaknya ingin menguji si aki
mereka berdebat tentang rock, blues, dan jazz: aliran mana yang lebih oke
sambil memamerkan skill gitar
tiba-tiba si aki nyeletuk “itu mah masalah selera..tapi sebenernya semua bisa digabungin kok..”
lalu si aki tiba-tiba meminjam gitar pemusik ini
dan tiba-tiba dia memainkan melodi-melodi gitar Santana untuk menunjukkan “bahkan rock, blues, jazz bisa digabungin skaligus bersama latin, asal kalian benar memainkannya”
(akhirnya sesi itu ditutup dengan pemusik yang menganga
dan penyerahan gitar akustik oleh pemusik itu kepada si aki
dan sampai skarang mereka menjadi langganan tetap untuk diskusi tntang karya baru mereka
bersama si aki)

ini mungkin warung kopi biasa
tapi pemiliknya bukanlah pemilik warung kopi biasa
banyak mitos yang berkaitan dengan si pemilk kopi
mulai dari siapa nama aslinya (hanya biasa dipangigil Pak Pi, singkatan dari ‘Pak, Kopi’)
hingga isu bahwa sebenernya dia adalah justru pendiri warung kopi tersebut yang tidak bisa mati (mengingat tidak ada satupun keluarga dari si pemilik warung kopi ini)

apapun itu, satu yang jelas
jika kau datang kemari
berbicaralah sesukamu bertanyalah sekenamu kepada si pemilik
dan kau pasti tidak mengira bahwa si pemilik bisa tahu semua yang kau pikirkan
bahkan bisa tahu apa yang tidak kau tahu
yang semua itu membuatmu tidak merasa ada di warung kopi
atau tidak membuatmu merasa sedang berbicara dengan pemilik warung

kau justru akan merasa ada di rumah
atau mungkin di kantor
mungkin di kampus
sedang ngobrol dengan orang tua, pasangan, atasan, atau mungkin dosen
yang herannya, topik-topik tersebut bisa dilakukan kesemuanya dengan sempurna
oleh si pemilik
hingga membuatmu merasa nyaman
hingga akhirnya kau akan sadar
mengapa warung kopi ini
dinamakan “warung kopi asik, tempat ngopi paling asik selama tujuh generasi”

datanglah ke warung kopi asik
dan kau akan mengerti
bahwa memang warung kopi ini warung kopi asik
hanya saja ada yang perlu kau perhatikan jika kemari

tidak ada es teh manis, es jeruk, roti bakar, atau apalah itu
tidak ada capuccino, latte, atau apalah itu
tidak ada AC, internet, sofa empuk dan televisi, atau apalah itu
yang ada hanya warung kopi tradisionil biasa dengan pemilik luar biasa
Jika kau mau pesan yang lain:
kau hanya dapat air putih
jika mau protes:
silakan pergi

itulah aturan warung kopi asik

February 26, 2010 Posted by | Igauan, literature | , , , | Leave a comment

Sajak Orang Bodoh

orang bilang diam itu emas
maka aku pun hanya terdiam

lantas datanglah orang-orang
berduyun-duyun mereka mengelilingiku
mengoceh tentang hal-hal yang aku tidak mengerti
yang mungkin tidak juga kau mengerti

mengoceh tentang sesuatu
yang kata mereka penting
kata mereka menyangkut hajat hidup orang banyak
dan kata mereka menyangkut masa depan anak cucu

aku mencoba menyimak
hei, apa ini
kok tidak ada satu pun yang aku mengerti?
oke, aku spakat
aku memang agak bodoh
(ya, bolehlah aku memperhalus kenyataan sedikit
bahwa aku lebih parah dari itu: idiot, terbelakang)

tapi tunggu2..
yang dikemukakan orang-orang ini..
katanya hal yang penting
hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak
dan anak cucu..

kalo memang begitu tentu saya ada di dalamnya dong?
tapi kok saya tidak tahu apa-apa ya..

orang-orang ini sebenarnya pake bahasa apa sih?
fisik sama, kebangsaan sama, tapi kok saya sama sekali tidak tahu kata-kata mereka..
kalo kata orang kota, bahasa mereka tuh
ketinggian coy!

oke ketinggian..
jadi mereka yang terlalu pintar
atau saya yang terlalu bodoh
atau orang-orang ini yang sok pintar

tak tahulah
hanya Tuhan yang tahu (walaupun saya tidak berhak bawa-bawa nama Tuhan)..

dan daripada saya psing-pusing ikut mikirin hal yang saya tak tahu ini
lebih baik saya ngopi-ngopi sore saja
bersama kawan-kawan dekat
karena apa yang penting bagi saya saat ini adalah persahabatan dengan kawan saya
toh jika dipaksa menyimak omongan orang-orang pintar ini
(ya anggaplah mereka memang lebih pintar dari saya)
saya tidak akan tahu apa-apa..dan toh jika saya dipaksa bicara
toh saya akan mengacaukan jalan pembicaraan
karena mereka lebh pintar

jadi saya menyingkir
mengopi di sore hari
bersama sahabat karib
adakah yang lebih penting dari ini?

orang bilang diam itu emas
maka aku pun hanya terdiam

lalu datanglah salah seorang dari orang pintar
tapi berisik ini
menghampiriku yang sedang minum kopi panas
“kau orang yang apatis
apa kau tidak peduli dengan bangsa kita?
mau jadi apa bangsa kalo pemimpinnya macam kau ini?”

dan datang orang yang lain
“berkontribusilah hai pemuda
walaupun sedikit
karena kaulah pemimpin di masa datang”

dan makin banyak orang-orang berisik lain yang datang, dan semuanya ganti berbicara di depanku
dan topiknya berganti tentangku

oh tidak!!
saya hanya orang bodoh
saya tidak tahu apa yang kalian ucapkan
bahkan saya tidak tahu arti apatis atau kontribusi
tolong gunakan istilah yang mudah sedikit dong
saya kan tidak mengenyam pendidikan setinggi kalian

tapi ada beberapa hal yang saya tahu
bahwa:
1. apa yang kalian omongkan itu terlalu ketinggian
dan orang awam seperti saya dan kawan-kawan saya ini tidak mengerti
kalau memang itu penting
bisakah diperhalus sedikit?
kalau kalian tidak mampu, buat apa kalian belajar?
untuk diri kalian sendiri? jadi kalian lah yang munafik
sampaikanlah ilmu itu dalam bahasa yang mudah dicerna

karena untuk itulah kalian belajar
jika kalian justru mempersulit orang lain belajar apa yang kalian pelajari
menggunakan bahsa yang menurut kalian mudah
(sedangkan tidak menurut awam seperti saya)
maka kalian selama ini tidak belajar apa-apa.
karena jika kalian belajar
mudahlah kalian menyampaikan itu dengan mudah
(ups tunggu jangan marah, ini kan pandangan orang bodoh
saya mah tidak tahu apa-apa dibanding kalian)

2. dan apa yang kalian bilang dengan penting dan anak cucu
aduh, saya mah pusing dengan itu semua
menambah pikiran saja
untuk memikirkan makan apa besok saja otak saya sudah tidak kuat?
tidak bisakah kalian memikirkan sesuatu yang konkrit?
atau lebih tepatnya melakukan hal yang konkrit?

ajarkan pada saya
apa yang harus saya kerjakan untuk bisa makan di hari esok
harga sekarang ini mahal
dan, ya upah untuk orang bodoh begitu rendah
tak bisakah kalian secara konkret membantu saya?
daripada banyak omong yang tidak berujung
dan hnya menghasilkan sesuatu yang abstrak atau mengawang-awang?

kalo memang apa yang kalian bahas itu penting
harusnya saya merasa itu penting dong
tapi kok saya pikir itu tidak terlalu penting ya
setidaknya dibandingkan duit makan saya

toh, yang kalian lakukan selama ini
dan ke depannya
hanyalah sebatas mengecap, dan mengucapkan apa yang mengambang
jadi daripada energi kalian habis buat itu
tak bisakah kalian membantu saya secara riil?
(ya maaf deh, saya memang orang bodoh
ga pantas mengajari kalian, apalagi kalian yang pintar ini kan
memang amat sibuk menuntut ilmu, beda dengan saya yang bodoh)

3. dan satu-satunya ilmu yang saya tahu
adalah ilmu padi
makin berisi makin merunduk
makin berilmu makin kalemlah dia..
jadi, apa kalian orang pintar, belum belajar ini?

ya, cukp sekian terima kasih
maaf2 lho, kan sudah saya bilang
saya ini orang bodoh
jadi biar saya ini asal ngecap
tapi jangan dimasukin hati ya, orang saya dari sononya bodoh

jadi biarkan saya menikmati kopi sore hari
bersama kawan karib dan sambil sesekali (mencoba) bersastra
karena apalah yang orang bodoh ini bisa lakukan
selain nongkrong dan minum kopi?

dan janganlah anda mengkritik saya di belakang
masak orang yang lebih pintar, justru beraninya main di belakang
orang yang lebih bodoh (ups, ini logika orang bodoh lho, jangan tersinggung ya)
kan harusnya orang yang lebih pintar lebih berani dong
dan anda kan lebih tahu tentang ini daripada saya (inget lho, saya cuman orang bodoh, jadi maap ya)

mari kita semua selesaikan ini dengan damai
silakan anda berdiskusi lagi
dengan sesama anda
dan dengan bahasa yang susah kami fahami
menghasilkan yang juga kami tidak faham esensinya
tapi kalau menurut kalian itu perlu ya silakan
toh tidak kami larang

dan jangan sembarangan bilang kami apatis lo
kan sudah kami bilang di awal
bahwa ini karena kami bodoh, jadi ya daripada kami mengganggu kalian
lebih baik kami diam kan?

dan biarkan kami sore ini mengopi dengan santai
bersama sahabat karib kami
toh kami tidak menganggu anda kan, orang-orang pintar?

( dan pada akhirnya, terngiang lagi nasihat emak-abah: bahwa diam itu emas.. )

(dibuat di depok, 1.31. am)

January 25, 2010 Posted by | Igauan, literature, philosophy, politics | , , | Leave a comment

Sajak Ruang Kelas

Aku adalah ruang kelas
aku bisu, tak bisa bicara
tapi aku jadi telah jadi saksi
atas perjalanan hidup manusia
yang tak pernah tahu masa depannya

aku adalah ruang kelas
aku bisu, tak bisa bicara
dan di sini aku melihat semuanya
bagaimana manusia itu belajar
dan bagaimana manusia itu tumbuh dewasa

aku adalah ruang kelas
aku bisu, tak bisa bicara
namun aku telah mendengar
ratusan curahan hati umat manusia

ada yang menyumpah-serapahi dosennya, “anjing itu dosen..ngomong apaan sih di depan”
hingga ada yang menyanjung dosen yang sama, “aduh, dosen yang itu enak banget ngejelasinnya”
ada yang menyumpah-serapahi ujiannya, “anjing ini ujian susah banget sih..soal apa ini”
hingga ada yang menyanjung soal ujian yang sama, “aduh, gampang nih soal..untung dah belajar”
bahkan tak sedikit pula yang bengong saja serta tertidur tak tahu mau menjawab apa
di soal ujian yang sama

aku adalah ruang kelas
aku bisu, tak bisa bicara
namun aku melihat semuanya
bagaimana seorang manusia
belajar dan berkembang

aku sering melihat bangku kosong tak ditempati
ada yang datang terlambat, ketika kelas sudah jalan setengah baru sampai
ada pula yang ketika kelas jalan setengah, dia keluar tak kembali-kembali
masuk kembali waktu kelas masuk injury time
malah ada yang tak pernah aku lihat
tahu-tahu duduk manis di kelas waktu ujian tiba..

aku adalah ruang kelas
aku bisu, tak bisa bicara
namun aku tahu apa yang dipikirkan manusia ketika tiba di sini

ada yang memikirkan pacarnya sedang apa di luar kelas sana, selingkuh atau tidak
ada yang memikirkan pertandingan futsal, timnya menang atau tidak
ada yang memikirkan soal aksi nanti siang, lancar atau tidak
ada yang memikirkan tugas mata kuliah lain, bisa selesai hari ini atau tidak
ada yang memikirkan ujian, gampang atau tidak
ada yang memikirkan acaranya, bakal sukses atatu tidak
ada yang memikirkan mau cabut ngrokok kapan, skarang atau tidak
bahkan ada yang tidak memikirkan apa-apa..hanya bengong di kelas

aku adalah ruang kelas
aku bisu, tak bisa bicara
namun aku adalah saksi dari perjalanan hidup umat manusia
saksi ketika mereka melalui masa mahasiswa mereka

ada yang waktu pertama tiba duduk di kursi terlihat pendiam, ternyata tukang tidur
ada yang waktu pertama tiba duduk di kursi terlihat mencatat, ternyata menggambar
ada yang terlihat tidak meyakinkan, namun ternyata paling pintar
ada pula yang emang dari awalnya sudah terlihat pintar dan rajin

aku juga melihat bagaimana perbedaan mereka ketika lulus sma dan lulus mahasiswa
ada yang lebih oke secara fisik
tapi perkembangan otak dan perilakunya payah
ada pula yang sebaliknya, secara fisik semakin memprihatinkan
tapi jika soal otak dan perilaku, tiada tandingannya
dan mereka semua berubah
tidak ada yang sama persis ketika lulus mahasiswa dan ketika lulus sma

aku adalah tempat mereka berbagi kebahagiaan ketika masuk sini dan keluar dari sini
aku adalah tempat mereka berbagi duka ketika mereka tidak bisa keluar dengan mudah dari sini

aku sudah melihat berbagai macam persahabatan dan percintaan
ada yang persahabatannya tulus, ada juga yang menusuk dari belakang
ada yang percintaannya tulus, ada juga yang cuman jadi parasit bagi yang lain

di sini aku melihat semua
bagaimana manusia berkembang
aku memang bisu, tidak bisa bicara
namun bukan berarti aku buta, tuli, dan tidak peka
aku tahu seperti apa dosenmu dulu, namun kau tidak
aku juga kelak tahu seperti apa kau kelak, namun muridmu tidak
aku bisa tahu busuknya hatimu, tapi mungkin pacar dan sahabtmu tidak tahu
dan aku juga bisa tahu sekeras apa kau berusaha di sini, tanpa satupun yang tahu

ya, aku memang hanya ruang kelas
bisu, tidak bisa bicara, dianggap benda mati
namun berhati-hatilah
karena aku bisa tahu segalanya tentangmu
yang belum tentu orang terdekatmu tahu

(depok, 19 desember, 8.19)

January 25, 2010 Posted by | Igauan, literature | , , | 2 Comments

Sajak Ekonom Mabok

Suatu pagi aku terjaga dari lelap
dan ketika mematung depan cermin aku bertanya
siapa yang empunya wajah di kaca
dan jawabnya
itu wajah adalah punya mahasiswa,
itu wajah adalah wajahmu,hai intelektual muda
hai calon pemimpin bangsa

dan aku bertanya apa iya
itu wajahku? apa iya aku ini calon pemimpin bangsa
dan apa iya pula jika aku ini seorang intelektual?

hei, yang berdiri di depan cermin,
mengapa pula kau ini meragu
akan statusmu sebagai mahasiswa ekonomi?
yakinkah kau punya cukup waktu
untuk berpikir hal remeh macam ini?
takkah kau sadar kalau kau
akan menjadi sosok manusia macam apa kau di masa nanti?

aku terdiam
karena tak tahu ini suara darimana
dan tak tahu itu pertanyaan apa jawabannya
eh, belum sempat aku menjawab,
ada suara lain menggema

hei, yang berdiri di depan cermin,
buat apa kau meragu,
bukankah kau selama ini telah yakin,
bahwa engkau akan menghabiskan hidupmu
dengan bersenang-senang dan bermain-main?
seperti yang kau lakukan ditengah kosongmu
pesta di sana dan pesta disini

tanpa tahu apa-apa aku membisu
kok tahu-tahu sekelilingku begitu berisik
dan tahu-tahu kok suara-suara ini begitu sok tahu
tahu-tahu berlagak seolah mereka yang paling tahu
padahal mereka hanya tahu sedikit, bahkan tidak ada

weleh-weleh, mengelak kau rupanya
kau kira aku tak tahu apa yang kau kerjakan
tidur saja dan bersenang-senang
tanpa pernah membaca
iya kan?

hei, ingat boy,
kau sudah tidak bisa bertingkah slonong boy
petentang-petenteng bak koboy
ingatlah, ketika engkau menyandung status mahasiswa
sebagai seorang ekonom muda
nasib bangsa di masa depan ada pada mahasiswa

apa kau sudah tidak peduli orang miskin?
apa kau sudah tidak peduli pada orang fakir?
apa kau sudah tidak peduli pada anak yatim?
apa kau sudah lupa akan bangsamu sendiri?
apa kau sudah yakin akan dirimu sendiri?
apa kau sudah yakin akan masa depanmu nanti?

aku semakin diam
bukan karena merasa bersalah atau apa
tapi aku tak tahu apa yang dibicarakan
apa aku sedang mabok, kurang tidur ato apa?

ya, kamu ini memang mabok, bocah
mabok harta, mabok kuasa, mabok cinta, dan mabok beneran
kamu sendiri ga sadar kalo kamu mabok kan?
itu tandanya kamu emang mabok

ini apa pula ini
semakin berisik saja suara-suara ini
emang siapa sih yang punya suara-suara ini?
bahkan aku yang punya kuasa tak merasa bersuara
lantas suara ini mewakili suara siapa?

seenaknya nuduh orang mabok
emang siapa yang mabok
semakin tidak jelas apa maksud
suara-suara ini
yang mabok saya atau mereka?
semakin tidak mengerti saya?

“udah, tidur lagi aja..kan ceritanya di awal terjaga dari tidur..yaudah tidur lagi aja..gampang kan?”

ini suara baru saya kenal
dan saya suka suara ini
saya sepakat
memang tidak ada yang lebih baik daripada tidur lagi

-dan lagi-lagi engkau lari dari masalah-

(depok, 3 desember 2009, 06.30, inspired by seno gumira ajidarma and (alm) w.s. rendra)

December 3, 2009 Posted by | Igauan, literature | , , , , | Leave a comment

Sekarang Tari Pendet, Kemarin Reog, gimana kalo besok Musik Melayu dipatenkan juga Malaysia?

Sepekan terakhir, nampaknya isu tentang ‘perampokan budaya’ Indonesia oleh negeri tetangga kembali menghangat.. Ya apalagi jika bukan klaim tari pendet oleh Malaysia

untuk kesekian kalinya negara tetangga ini mengklaim produk budaya Indonesia, setelah Reog Ponorogo, Rasa Sayange, Batik, dll.. Argumennya pun selalu sama, ‘karena serumpun, tidak menutup kemungkinan budayanya sama.’

oke, mungkin argumen itu valid..sayangnya untuk kali ini banyak yang beranggapan bahwa itu salah, mengingat tari pendet bukan budaya Melayu, murni budaya Bali..

oke, saya bukan ahli budaya, dan akan ribet jika membahas hal ini terlalu dalam..dan bukan sesuatu yang tepat jika membahas ini di sini..

hanya saja, saya sedikit tertarik dengan berita dengan respon pemerintah.. Di mana pemerintah menyayangkan tindakan masyarakat yang kurang mengapresiasi budaya sendiri hanya menggonggong jika ada klaim asing.. langkah pemerintah sendiri juga nampaknya sesuai dengan ‘prosedur’ yang diharapkan, menenangkan dalam negeri, klarifikasi ke Malaysia, dan lain-lain langkahnya..

pertanyaannya, adalah bukankah hal-hal seperti ini juga terus terjadi di masa lalu? kenyatannya sekarang terulang lagi.. jadi, kalo boleh dibilang, ‘kemana ama ngapain aja pemerintah dari dulu?

oke, jika pemerintah berargumen masyarakat kurang apresiasi, apa pemerintahnya uda cukup memfasilitasi?

ya, kita tidak perlu berdebat lagi lah soal pemerintah ata masyarakat kah yang salah, atau mempermasalahkan tetangga kita yang rese’..pemerintah maupun masyarakt udah seharusnya memberi perhatian lebih terhadap masalah budaya..semua elemen kudu bekerja sama dengan baik, ini adalah kunci utamanya..

just go ahead, step forward, and do it better..

toh, setiap hal ada positifnya, termasuk hal ini, yakni Bali bisa saja makin populer

jadi, masih sekedar marah-marah doang?ayolah, yang penting adalah tindakan konkret untuk berubah..

(NB: saya jadi berpikir, gimana kalo Malaysia mempatenkan juga Musik Melayu?unuk hal yang satu ini, yang akan terjungkal ga hanya pemerintah atau seniman saja.. industri musik kita juga akan kacau..apalagi jika melihat potensi industri musik ini, di mana katanya RBT Kangen Band, ST12, Wali, dsb, bisa capai angka miliaran..wohoho..bakal jadi apa ya kalo Malaysia ikut mempatenkan irama musik Melayu?dan bakal gimana masyarakt kita? wallahu a’lam)

August 27, 2009 Posted by | culture, politics | , , , , , , , | Leave a comment

Seperti Apakah Jawa 2020?

Prediksi ekonomi yang ada, menyebutkan pertumbuhan ekonomi RI bakal menjadi yang paling cepat di asia tenggara. Bahkan, di sumber yang sama, Presiden SBY menargetkan pertumbuhan lebih dari 5% pada 2010, dan lebih besar di tahun berikutnya..
Di sisi yang lain, disebutkan bahwa Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar bagi PDB Indonesia, sebesar 57,8 persen

artinya, jika pertumbuhan ekonomi RI menjadi paling cepat, otomatis di situ pertumbuhan ekonomi (atau dengan kata lain aktivitas ekonomi) di pulau jawa sendiri akan menjadi makin cepat..

Tentu, menarik sekali membayangkan seperti apa Jawa ke depannya..Jika benar Indonesia akan mengalami pertumbuhan sebesar itu, tentu Jawa juga akan mengalami imbasnya..

Berkaca pada periode Orde Baru silam, dimana sering juga dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia termasuk ‘macan Asia’ (termasuk Indonesia yang pernah digolongkan Macan Asia)akan menyaingi Amerika dan Eropa menjelang tahun 2000 (paling sering pendapat ini dikeluarkan oleh ahli sosial-ekonomi, futurist, dan pengarang Megatrends 2000, John Naisbitt).. namun nyatanya?pada tahun 1997 saja perekonomian Asia sudah ambruk..

Melihat, dari fakta itulah,  bisa saja ramalan-ramalan tentang keberhasilan ekonomi Indonesia adalah nonsens..

Namun, di sini saya mengambil asumsi bahwa Indonesia bisa belajar dari kegagalan yang lalu, sehingga benar-benar mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi..

Pertanyaannya adalah: Seperti apakah Jawa nantinya, khususnya di era perdagangan global 2020? akankah ia akan menjadi suatu kawasan industri yang maju? dengan tingkat kesejahteraan penduduknya yang makin tinggi, tingginya angka pendapatan, berkurangnya pengangguran, melimpahnya gedung pencakar langit, dan lain-lain indikator wilayah yang maju..

ataukah ia akan jadi suatu kawasan yang semakin menunjukkan suatu kesenjangan: yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin..toh dengan tingkat pertumbuhan seprti sekarang saja tingkat kesenjagan sudah tinggi, apalagi jika tingkat pertumbuhan menjadi lebih tinggi dari sekarang..

Jadi, manakah yang benar? Semakin senjang atau semakin makmur?

Ah, ataukah saya yang terlalu bermimpi? mengingat 2012 nanti, katanya kita akan kiamat..

August 12, 2009 Posted by | economy, Igauan | , , , , , , , | 1 Comment